
- DASAR HUKUM
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala DInas Kesehatan Kota Bengkulu
- PERMASALAHAN
Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk usia ≥18 tahun mencapai 34,1%. Dari jumlah tersebut, hanya 31,3% yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan hanya 13,3% penderita yang minum obat secara teratur sedangkan di Kota Bengkulu jumlah penderita Hipertensi diusia 35 tahun sebanyak 82.320 orang sedangkan yang mendapatkan pelayanan kesehatan standar 6.924 orang (84,1%).
Hipertensi sering disebut sebagai the silent killer karena umumnya tidak menimbulkan gejala, namun secara progresif dapat menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gagal ginjal kronis. Komplikasi tersebut merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, serta menimbulkan beban pembiayaan kesehatan yang tinggi bagi individu, keluarga, maupun negara.
Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka hipertensi tidak terkontrol di masyarakat antara lain:
- Rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala;
- Perilaku berisiko seperti konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, merokok, dan stres;
- Rendahnya kepatuhan minum obat pada penderita karena takut ketergantungan atau tidak merasakan keluhan;
- Belum optimalnya sistem pelayanan yang proaktif menjangkau masyarakat hingga tingkat rumah tangga.
Pengendalian hipertensi sebagai salah satu prioritas program melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Upaya ini diintegrasikan melalui kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), dan penerapan perilaku CERDIK.
Oleh karena itu, Puskesmas Jalan Gedang perlu melaksanakan Program Pengendalian Hipertensi Berbasis Masyarakat secara terstruktur dan berkesinambungan, guna meningkatkan cakupan deteksi dini, meningkatkan proporsi penderita yang terkontrol, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Jalan Gedang melalui program inovasi KOPI MAK KITO.
- ISU STRATEGIS
Isu strategis dalam pelayanan di Puskesmas adalah belum optimalnya sistem pelayanan yang proaktif menjangkau masyarakat hingga tingkat rumah tangga, masih rendahnya kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi karena takut ketergantungan atau tidak merasakan keluhan dan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
- METODE PEMBAHARUAN
Sejalan dengan isu strategis tersebut, metode pembaharuan yang diterapkan meliputi digitalisasi layanan melalui aplikasi sederhana untuk mencatat tekanan darah dan mengingatkan jadwal minum obat. Kader kesehatan dilatih menjadi kader digital yang mampu memberikan edukasi kepada masyarakat secara interaktif. Konsep Posbindu pintar dikembangkan dengan menggunakan alat ukur digital dan dashboard monitoring. Edukasi disampaikan melalui konten yang menarik seperti video pendek dan diskusi grup, serta diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor agar program dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.
- KEUNGGULAN DAN KEBAHARUAN
Program ini memiliki sejumlah keunggulan yang membedakannya dari pendekatan konvensional. Pendekatan pencegahan dini menjadi prioritas utama sehingga risiko komplikasi dapat diminimalisir sejak awal. Program ini juga dirancang hemat biaya karena memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi sederhana. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi berperan aktif sebagai subjek dalam pengendalian hipertensi. Dukungan teknologi mempermudah monitoring dan pelaporan secara real-time, sementara kolaborasi lintas sektor memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
- TAHAPAN INOVASI
- Dilakukan kegiatan penjaringan ide inovasi dalam lokakaryamini berdasarkan data capaian program Puskesmas
- Membuat SK Inovasi Puskesmas (Kopi Mak Kito ) dan di tanda tangani kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu
- Membuat SOP Kegiatan Inovasi
- Melakukan lokakarya lintas sektor sebagai sosialisasi kegiatan inovasi.
- Melakukan kegiatan inovasi sesuai dengan SOP yang telah dibuat
- Petugas melakukan skrining/ deteksi dini. Pemeriksaan dapat dilakukan di dalam Gedung (pasien yang datang ke Puskesmas) dan juga di luar gedung seperti di Posyandu, CKG di masyarakat (di kelompok arisan, kelompok olahraga atau senam)
- Petugas membuat catatan dan melaporkan ke penanggung jawab program jika di temukan TD ≥ 140 mmHg dan di rujuk ke puskesmas untuk melakukan cek tekanan darah kembali di hari yang berbeda
- Petugas mendampingi berkonsultasi dengan dokter untuk menegakkan diagnosa
- Peserta yang terdiagnosa hipertensi sakit untuk di tindak lanjuti sesuai prosedur
- Petugas memasukan data dalam aplikasi ASIK
- Melakukan edukasi gaya hidup dan pola makan oleh petugas promkes dan petugas Gizi
- Melakukan pengobatan sesuai standar, mengambil obat di puskesmas, dengan program rujuk balik PRB BPJS
- Petugas melakukan follow Up pasien yaitu dengan kontrol tekanan darah tiap bulan, jika 3 bulan tidak terkontrol lakukan rujuk ke FKTL
- Peserta di fasilitasi untuk melaksanakan senam hipertensi 1x / minggu di puskesmas Jalan Gedang
- Penanggung jawab program melakukan monitoring dan evaluasi dan di laporkan kepada kepala puskesmas pada saat minilokakarya bulanan


